Wisata Jogja

Sebagai salah satu tujuan wisata utama di Indonesia, Yogyakarta memiliki banyak faktor yang mampu menarik datangnya wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Faktor keanekaragaman atraksi dan daerah tujuan wisata, di mana terdapat lebih dari 50 tempat tujuan wisata, kemudian faktor atribut budaya, sejarah, Sewa Mobil Jogja dan alam yang menjadi ciri khas utama wisata Yogyakarta serta memberikan identitas yang unik terhadap pariwisata Yogyakarta. Berbagai atribut tersebut dapat menggambarkan pariwisata Yogyakarta secara keseluruhan. Yogyakarta menjadi sangat menarik karena memiliki sekitar 36 candi atau situs bersejarah. Selain itu Yogyakarta juga memiliki persekitaran yang indah dengan bangunan-bangunan arsitektur tradisional yang masih banyak dijumpai. Kehidupan sosial yang selaras dan serasi antara unsur tradisional dan modern membentuk keharmonisan. Upacara-upacara tradisional masih terpelihara dengan baik hingga kini.

Suasana malam di Yogyakarta yang romantis dengan lampu-lampu hiasnya membuat Yogyakarta menjadi daerah yang menarik untuk dikunjungi tidak hanya sekali, tetapi juga ngangeni (membuat rindu dan ingin datang kembali). Seni dan budaya tradisional seperti musik gamelan dan tarian tradisional mampu mengingatkan siapapun yang melihatnya akan kehidupan masa lampau. Umumnya obyek wisata ini terletak di sekitar Kraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa yang merujuk pada budaya Kerajaan Mataram.

Setiap wisatawan tentunya ingin mengunjungi suatu daerah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, tapi mendapat yang sebanyak-banyaknya. Berdasarkan informasi yang telah dimilikinya, maka wisatawan dapat merencanakan kunjungannya, dan memilih objek yang sesuai dengan minatnya secara efisien. Dengan adanya informasi seperti itu maka wajar jika para wisatawan mancanegara hanya tinggal di Yogyakarta selama satu atau dua malam saja, karena seluruh objek utama yang ada dapat dikunjungi dalam waktu yang relatif singkat. Sesungguhnya Yogyakarta memiliki potensi wisata yang beragam, seperti wisata alam, sejarah, budaya, wisata belanja, lingkungan, transportasi tradicional, dan kuliner. Wisata alam misalnya Yogyakarta mempunyai Gunung Merapi, dengan sejuta pemandangan yang indah, di wilayah Gunung Kidul terdapat banyak gua dengan stalaktit-stalakmit yang eksotis, bahkan pantai di wilayah selatan juga tak kalah menariknya.

Wisata sejarah tampaknya adalah bidang yang sekarang menjadi andalan, mengingat di wilayah Yogyakarta terdapat benda dan bangunan peninggalan sejarah seperti candi Prambanan, candi Sewu, dan candi-candi di sekitarnya, merupakan daya tarik bagi wisatawan, baik Nusantara maupun Mancanegara. Dalam bidang wisata budaya Yogyakarta mempunyai potensi yang tidak kalah uniknya dibanding dengan daerah lain, tetapi selama ini baru seni tari (pertunjukan sendratari Ramayana), sementara pertunjukan seni kerakyatan seperti gejog lesung, angguk, dan jathilan belum tergarap sebagai atraksi wisata. Berbagai upacara adat daur hidup, dan keagamaan baru upacara waisak di Borobudur dan Garebeg saja yang dijual pada wisatawan. Selain itu oleh-oleh berupa makanan dan minuman khas daerah tujuan wisata tidak bisa dikesampingkan. Oleh sebab itu makanan seperti Bakpia harus dikembangkan, dari Pathok ke berbagai desa di Yogyakarta dengan memasukan kekhasan masing-masing. Begitu pula dengan wedang uwuh, yang menyegarkan badan itu perlu ditangani lebih lanjut baik berupa kemasan dan inovasi lain agar minuman herbal iu dapat menjadi oleh-oleh yang diburu di samping Bakpia.

HB I membangun Yogyakarta berdasar konsep-konsep sosial, kenegaraan dan fungsional. Konsep-konsep yang diwujudkan dalam struktur, pola ruang dan citra kota adalah sebagai berikut :  

  1. Konsep Catur Sagotra

Catur Sagotra atau Catur Gotro Tunggal merupakan konsep kosmologi Jawa, yaitu pemikiran tentang teranyamnya 4 komponen kehidupan dalam satu kesatuan ruang. Konsep tersebut merupakan gambaran kondisi yang harmonis dari alam semesta, yaitu terintegrasinya mikrokosmos dan makrokosmos dalam satuan ruang kehidupan. Keempat gotro (masa) tersebut dalam posisi arah jarum jam adalah kraton, masjid gede, pasar dan alun-alun. Keempat komponen tersebut menyatu dalam satu kawasan, dihubungkan oleh ruang jalan, berfungsi sebagai inti kota. Keempat komponen tadi mewakili fungsi-fungsi penting dalam kehidupan kota, yaitu pemerintahan/pemimpin (kraton), religi, etika dan moral (masjid), ekonomi (pasar) dan budaya (alun-alun)

  1. Konsep Golong Gilig; Sawiji, Greget, Sengguh Ora Mingkuh; Manunggaling Kawulo Gusti; Sangkan Paraning Dumadi

Golong gilig secara harafiah berarti sesuatu yang utuh, menyiratkan semangat dan niat yang satu atau menyatukan semua golongan. Konsep tersebut diwujudkan dalam bentuk tugu (obelisk) Golong gilig, diletakkan pada garis lurus imajiner dari kraton ke puncak Merapi, berjarak 2,5 km dari kraton. Antara kraton dan tugu dihubungkan oleh jalan lurus, yang diberi nama Margo Utomo, Malioboro (Mali-obor-o/ memakai obor), dan Margo Mulyo. Nama-nama tersebut menyiratkan hubungan antara cita-cita mulia harus ditempuh sengan cara yang mulia, untuk menuju keutamaan, dengan berbekal ilmu pengetahuan ajaran para wali dan leluhur. Tugu atau yoni di utara adalah simbolisasi satu tujuan, sawiji, yang tidak akan bergeser walaupun banyak rintangan (sengguh, ora mingkuh). Di bagian selatan, dalam garis lurus Merapi-Tugu-Kraton dibangun panggung untuk mengamati binatang buruan di Hutan Krapyak yang berbentuk lingga. Sumbu utama tersebut membentuk kesatuan simbol lingga – yoni (Purusha dan Pacitry), sebagai wujud konsep manunggaling kawulo gusti. Konsep Sangkan Paraning Dumadi, merupakan pesan moral untuk tidak lupa diri, pengingat bahwa kehidupan itu berasal dari Allah kembali ke Allah. Konsep tersebut diwujudkan dalam simbol-simbol ruang dan citra kota di sepanjang poros Tugu-Kraton-Panggung Krapyak.

  1. Konsep Pengendalian Pemerintahan dan Pertahanan Kota

Pangeran Mangkubumi sangat sadar bahwa sumber kekuatan utama lahiriah dalam memimpin negara adalah loyalitas sentono dalem dan ulama dengan santrinya. Oleh karena itu sangat penting untuk mengakomodasi kepentingan atau kebutuhan para sentono dan ulama, sebagai strategi pengendalian. Strategi tersebut diwujudkan dalam bentuk alokasi atau distribusi fungsi ruang dalam wilayah kesultanan. Untuk memperoleh loyalitas, para pangeran dan abdi yang berjasa diganjar tanah lungguh (apanage). Tetapi para pangeran atau pejabat pemegang tanah lungguh harus tinggal di wilayah Kutho Negoro, untuk kepentingan pengendalian dan pengawasan. Di samping penempatan para pemegang tanah lungguh dan alokasi tanah lungguhnya, HB I juga menciptakan konsep Masjid Pathok Negoro. Konsep tersebut adalah strategi untuk memperoleh dukungan dari ulama dan santrinya. Dari sudut pandang politik kenegaraan, konsep masjid Pathok Negoro adalah sebagai bagian dari strategi HB I untuk mengelola kekuatan-kekuatan yang mendukung tegaknya negara Ngayogyokarto Hadiningrat. Dari sudut budaya, struktur tersebut menggambarkan konsep Mandala. (harmoni pusat pinggiran, konsep keblat papat limo pancer).

Penanda lain yang menguatkan Yogya dibangun atas dasar konsep sosio kultural dan religi adalah keberadaan Masjid Pathok Negoro. Masjid tersebut berada di empat penjuru pinggiran Kutho Negoro (Mlangi, Ploso Kuning, Babadan dan Dongkelan). Sebutan dan lokasi 4 masjid tersebut secara eksplisit mendudukkan fungsi dari agama Islam, sebagai sandaran kekuatan Negara. Pathok bukan hanya batas, tetapi tonggak pengikat supaya bangunan kuat berdiri. Masjid pathok negoro sebagai keblat papat dan masjid Gede Kauman sebagai pancer nya. Struktur tersebut hanya ada di Yogya, tidak ditemui di kota-kota lain di Indonesia.

Obyek wisata Candi, menjadi salah satu obyek wisata yang turut diperhitungkan di dunia pariwisata Kabupaten Sleman. Pengunjung obyek wisata candi terlihat relatif meningkat dari tahun 2008 hingga 2012. Candi Ijo merupakan urutan tertinggi ketiga setelah Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Candi Ijo menjadi destinasi wisata yang juga masuk dalam jajaran candi yang sering dikunjungi wisatawan. Candi Ijo terletak di lereng bukit padas yang dikenal dengan Gunung Ijo, di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Ijo berada di lereng yang merupakan bagian dari Perbukitan Batur Agung, kira-kira 4 km arah tenggara Candi Ratu Boko, dan sekitar 8,7 km dari Candi Prambanan. Candi Ijo diperkirakan dibangun pada abad 10 sampai 11 pada masa Kerajaan Medang periode Mataram. Candi Ijo berada pada ketinggian ± 400 meter di atas permukaan laut, dengan koordinat -7.783795, 110.512079. Candi Ijo menjadi candi dengan lokasi tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, Candi Ijo juga merupakan Candi Hindu dengan candi induk terbesar kedua setelah Candi Prambanan.

Candi Ijo sendiri merupakan candi yang tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu banyaknya view yang dapat dilihat dari kawasan tersebut, seperti sunrise, sunset dan juga awanawan yang ada di atas Kota Yogyakarta yang hanya dapat dilihat saat subuh. Candi Ijo yang letaknya relatif jauh dari hiruk-pikuk kota, dapat menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang hendak mencari keheningan dan ketenangan. Untuk mendukung dan memfasilitasi wisatawan-wisatawan yang hendak berwisata di Candi Ijo, maka pembangunan tempat penginapan bagi wisatawan dapat menjadi jalan keluarnya dan anda apabila anda memerlukkan transportasi selama di jogja ada Sewa Mobil Jogja Murah

 

Tinggalkan Balasan